#Szczęście – The Story of Us (Part I)

Szczęście. It means happiness in Polish.

Happiness, gladness or joy is a mental or emotional state of well-being defined by positive or pleasant emotions ranging from contentment to intense joy. A variety of biological, psychological, religious and philosophical approaches have striven to define happiness and identify its sources.

Disclaimer: The intention of this post is only for sharing our story to all of you guys. No specific other intention.


 

Minggu, 8 Juni 2014
Hari ini adikku ulang tahun. Aku sedang berada di Malaysia waktu itu. Alhasil aku hanya bisa menelepon untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Setelah menelepon, aku nge-post foto aku dan adikku di Path. Biasa, pamer kalo ada saudara yang ulang tahun di media sosial. Tipikal anak zaman sekarang. Aku iseng-iseng kemudian membuka Tinder. Seperti biasa, yang muncul adalah wanita-wanita di sekitar Sipitang, Labuan, dan paling Kota Kinabalu. Jarak maksimal dari Tinder kan hanya beberapa kilometer saja. Tiba-tiba ada satu profile Tinder yang muncul di layar. Cukup lama aku memandang layar hapeku karena ada satu hal yang cukup aneh di situ. Jarak yang tertera di bawah nama User itu bukanlah sekian puluh kilometer melainkan 1581 kilometers away. Ha? 1500 km dari Sipitang? Wah ini sih di Jakarta atau Bandung. Aku lihat namanya. Clara, 20. Dari foto-foto yang dia pasang di Tinder, dia anak yang cukup menarik perhatianku. Iseng-iseng aku swipe ke kanan (yang berarti Like). Tidak lama kemudian muncul notofication It’s a Match! dari Tinder. Dan ternyata match tersebut dengan Clara yang baru saja aku swipe ke kanan. Aku pun mencoba menyapanya di Tinder.

“Halo. Kenalin gue Andhika. Panggil aja Dika.”
“Halo Kak Dika. Namaku Clara tapi panggil aja Lala.”
“Halo La. Masih kuliah La?”
“Iya Kak. Aku kuliah di Unpad. Kakak?”
“Oh gue udah kerja. Gue sekarang di….Malaysia. Ooh di Bandung. Pantes jarak yang di Tinder ribuan kilometer.”
……

Kami pun chatting cukup lama hari itu. Dari chat dengan dia, iseng-iseng aku buka profile FB dia. Aku ketik Clara Viriya dan muncullah profile dia. Ternyata ada beberapa mutual friend dan ternyata juga dia SMA di Santa Ursula. Karena bawaannya penasaran, aku coba chat temenku anak Sanur 2009.

“Man, mau nanya dong. Lo kenal ga ya kira-kira. Anak Sanur 2012.”
“Oh siapa namanya Dik? Mungkin aja si gue tau. Sapa tau anak PSUMB.”
“Namanya Clara Viriya. Angkatan 2012.”
“Oh tau diikkk. Dia adiknya temen gue. Adeknya Nonny. Itu Catherine. Temennya Roland. Lo tau ga?”
“HAH DEMI APA DIA ADEKNYA NONNY? GUE UDAH PERNAH KETEMU DAN KENALAN DONG DULU PAS DI BALI? WAKAKAKAKA”
“Iyaaa dia adeknya Nonny. Nah itu udah pernah ketemu lo.”
…..

Yes. The world is so small after all. Ternyata aku udah pernah ketemu dan kenalan ama si Clara ini dulu tahun 2011 di Bali. Tapi waktu itu yaudah cuma kenalan aja. Not more.

“La, lo inget ga, dulu lo pernah ke Bali sekeluarga. Trus di Bali lo ke Potato Head. Ketemuan ama Roland dan Roland bawa temennya. Nah itu gue, La. Hahahahaha.”
“HAAAAAA Demi apa kakkk. Itu kamuuuuu? Iyaaa aku ingett. Udah lama banget ituuu. Wkwkwkwk.. Dunia sempit banget ya kak.”
…..

Pembicaraan pun makin berlanjut hingga akan berganti hari. Hari itulah aku akhirnya “bertemu” Lala kembali setelah sekian tahun. Hingga sekarang, kami pun masih bingung kenapa Tinder bisa mempertemukan kami secara jaraknya melebihi jarak maksimal Tinder. It’s a mystery. Thanks to Tinder anyway!

The page that stole my eyes

The page that stole my eyes

Jumat, 11 Juli 2014
Setelah satu bulanan berkomunikasi via chat media sosial, akhirnya hari ini aku akan kembali ke Indonesia bertemu dengan Lala. Ini merupakan cuti pertamaku sejak bekerja di Malaysia dan aku akan ke Bandung untuk bertemu dengan Lala dan menghadiri Wisuda Juli 2014. Waktu itu kami berencana untuk jalan-jalan dan menonton film di PVJ. Aku akan menjemputnya di kampus sekitar pukul 5 sore. Dengan meminjam Boboho nya Garini, aku sudah menunggu di depan gerbang Hukum. Cukup deg-degan waktu itu. Mengingat kita sudah lama tidak bertemu dan sudah berkomunikasi hingga cukup dekat selama sebulan terakhir. Hujan gerimis pun turun ketika aku menunggu dia. Tidak lama kemudian ada sesosok wanita dari balik hujan. Aku tahu itu dia dan aku melambaikan tanganku padanya dan dia pun masuk ke dalam mobil.

“Halo Lala. Apa kabar?”
“Halo Kak Dika. Akhirnya kita bertemu lagi ya setelah sekian lama.”
“Ini kita mau nonton dulu atau mau makan?”
….

Malam itu kami menonton film The Fault in Our Stars. Tiketnya sampai sekarang masih ada tetapi sudah pudar maksimal. Setelah menonton kami makan surabi di Setiabudi. Ketika di sana kami membuat video ucapan ulang tahun buat teman kami Roland. Setelah itu kami hanya berkeliling Bandung di malam hari dan mengantarnya kembali ke kosan dia. Our first date.

Jpeg

Our first movie date

Minggu, 13 Juli 2014
Dua hari berselang setelah pertemuan pertama kami. Hari itu kami mau ke gereja bersama pukul 09.15 di Gereja Pandu. Aku cukup telat menjemput dia. Baru pukul setengah 9 aku berangkat dari Ujang dan sampai di Gasibu pukul 9 kurang. Langsung tancap gas ke gereja Pandu. Ketika sampai di sana pas sekali perarakan baru masuk dan kami pun masuk setelah rombongan arak-arakan masuk. Fiuh. Near miss. Sampai sekarang, itu adalah salah satu misa yang paling happy dalam hidupku. Keluar misa akhirnya saya bisa mengucapkan “Happy Sunday” kepada seorang perempuan yang mengikuti Misa Kudus bersama saya. Kami memutuskan untuk makan di Eastern setelah itu. Kami sama-sama suka makan banyak. And Dim Sum in Sunday morning after Holy Mass is perfect.

Well… Someone was hungry. 😆

A photo posted by Andhika Permana Sutanto (@andhikasutanto) on Jul 12, 2014 at 10:54pm PDT

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

 

Hari itu kami berpisah di depan kosannya. Saya harus kembali ke Jakarta dan beberapa hari berikutnya aku kembali ke Malaysia. Dua hari tersebutlah bisa dibilang dua hari pertama aku bersama Lala.

 


 

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kami berdua semakin intens dalam berkomunikasi. Dari awalnya hanya chat saja, mulai menjadi telponan. Dari telponan lalu menjadi video call. Semua yang bisa kami lakukan untuk berkomunikasi. perlahan-lahan benih cinta pun mulai tumbuh di antara kami. Kami menjadi saling peduli satu sama lain. Dari yang awalnya hanya chat biasa menjadi chat yang penuh perhatian. Kami berdua pun ingin lebih mengenal satu sama lain lebih dalam.

Satu hal yang membuatku nyaman dengan Lala adalah aku benar-benar bisa menjadi diriku sendiri ketika berhadapan dengan dia. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Tidak jaim. Andhika is being Andhika even in front of her. Berdasarkan chat-chat selama beberapa bulan tersebut, aku juga mengetahui bahwa Lala adalah orang yang independen, mandiri. Hampir semua hal dia lakukan sendiri tanpa meminta bantuan orang lain. Sering di bekerja lebih larut daripada yang lainnya demi menyelesaikan tanggung jawab dia meskipun dia memiliki anggota tim, dia lebih pede & sreg jika dia yang memastikan semuanya berjalan dengan semestinya.

Jatah cutiku sebetulnya jatuh pada bulan September. Tetapi aku sengaja menunda cuti tersebut karena pada bulan  Oktober, Lala akan merayakan ulang tahunnya. Aku ingin bisa pulang di sekitar tanggal itu dan merayakan ulang tahun bersamanya. Tentunya Baku tidak bilang maksud yang sesungguhnya kepada dia tentang penundaan kepulanganku tersebut. Aku bilang kalau ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal pada bulan September.

Lala sangat bersemangat dalam menyambut kedatanganku bulan Oktober nanti. Sejak H-69 kepulanganku, dia membuat countdown berupa gambar yang dia buat sendiri. Dia mengirimkan gambar-gambar tersebut setiap pagi. Pada H-53, kartu count down dia berbeda daripada biasanya. Tulisan pada kartu hari itu adalah “52 Reasons Why I should Stay For Andhika Permana Sutanto”. Background dari kartu tersebut adalah Kartu Joker. Maka dapat ditebak, sisa 52 hari ke depan adalah kartu-kartu remi yang berisikan alasan-alasan dia mencintaiku. How lovely and sweet🙂 In the end, she made this compilation video

52 out of thousands reasons why i love you @andhikasutanto 💋

A video posted by Clara D Viriya (@claraviriya) on Oct 20, 2014 at 11:57pm PDT

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js
Dalam rangka merayakan ulang tahun dia, aku memiliki beberapa rencana surprise  untuk Lala. Tetapi karena posisiku di Malaysia, aku memerlukan bantuan. Akhirnya aku meminta bantuan dari beberapa teman terdekatku untuk bersida membantuku mempersiapkan semua rencana-rencanaku. Akhirnya terbentuklah grup di Line dengan nama The Surprise.

Aku memiliki beberapa surprise untuk dia, yaitu:

  • Lala’s Amazing Race
  • Candle Light Dinner @ Padma Hotel
  • Burgundy

Teman-temanku sangat amat bersemangat membantuku. Mereka melakukan survey, memesan barang-barang, bunga, balon, dan segala persiapan yang tidak mungkin sempat jika aku persiapkan nanti ketika aku baru datang ke Indonesia. Aku sangat bangga dan bersyukur memilik teman-teman yang bisa diandalkan seperti mereka. Semua hal telah aku pikirkan dan persiapkan. Termasuk aku meminta bantuan temanku untuk menjadi seksi dokumentasi pribadi selama candle light dinner di Padma nanti

 

Jumat, 10 Oktober 2014
Lala’s Amazing Race dilakukan di kampus ITB. Tujuan dari acara ini adalah untuk menceritakan kehidupanku selama di kampus dulu ke Lala. Jadi ada beberapa post yang harus dilalui dia dan di setiap post akan ada tugas tertentu. Pos awal adalah di tiang bendera ITB. Mbak Szagibella berjaga di situ. Tugas Bella adalah menjelaskan kepada Lala tentang Amazing Race tersebut. Bella bakal kasih ke Lala peta ITB yang ada letak pos-pos yang akan dikunjungi dan kamera GoProku. Jadi semua detik Amazing Race itu terekam di GoProku mengingat Lala akan menjalani semuanya sendiri jadi akan terekam keseruan berkeliling ITB yang asing baginya.
Pos I adalah KMK ITB. Keluarga pertamaku di ITB. Di situ ada Mbak Sasha dan Mbak Nosug yang berjaga. Tugas Lala adalah meminta tolong orang yang ada di KMK untuk mendoakan dia sebab dia baru saja berulang tahun.
Pos II adalah sekre KM ITB. Tempatku berkarya di hari-hari akhir sebagai mahasiswa. Ada Mas Babdur yang berjaga di sana. Babdur bercerita tentang Kabinet kami dulu yaitu Kabinet Pelita Muda dan ada sedikit tanya jawab tentang kemahsiswaan mengingat Lala waktu itu menjabat ssebagai kepala biro informasi dan komunikasi BEM FH Unpad.
Pos III adalah MBWG ITB. Keluargaku tercinta di ITB. Beberapa anak CG seperti Mbak Irna, Mbak Dinay, dan Mbak Bella berjaga di situ. Lala akan menjadi Color Guard dan akan melakukan beberapa gerakan dasar CG. She’d be my favourite CG player.
Pos IV adalah HIMATEK ITB. Himpunan dari jurusan tempatku meniti ilmu. Ada Mbak Lia yang berjaga di situ. Lala akan masuk ke dalam salah satu Lab yang ada di Labtek X, memakai PPE dan sedikit berfoto dengan peralatan-peralatan Teknik Kimia di situ.
Pos terakhir adalah pos aku sendiri. Aku menunggu dia di Rooftop Labtek XI. Di situ aku menunggu dia sambil membawa balon gas dan kado ulang tahun untuknya. Begitu dia sampai ke atas. Aku pun memberikan kadoku untuknya. Dan setelah itu aku pun bertanya ke padanya,

“La, maukah kamu menjadi calon partner hidupku?”
“Ya iya. Udah sampai kaya gini masa ga mau.”

And it’s official. 10 October 2014, our Facebook status changed from Single to In A Relationship.

“Thank you for accepting me, La. I will try my best to make you happy”

1442567088401

Sabtu, 11 Oktober 2014
Sabtu malamnya, kami berdua merayakan ulang tahun Lala dan hari jadi kami dengan candle light dinner di Padma Hotel. It was super perfect. Aku tidak bisa mendeskripsikan dengan kata-kata betapa sempurnanya semua momen yang terjadi malam itu. Biarkan foto yang berbicara…

Perfect Candle Light Dinner

Perfect Candle Light Dinner

IMG_7786

IMG_7778

Your smile melted me

IMG_7768

IMG_7772

IMG_7812

IMG_7825

IMG_7842

IMG_7860

Minggu, 12 Oktober 2014
Sore ini kami berdua mengikuti Misa Kudus kami yang pertama sebagai sepasang kekasih. Kami mengikuti Misa Kudus di Kapel Borromeus pukul 17.00. Oiya, pada hari ini pun aku mempunyai surprise untuk Lala. Yaitu surprise perayaan ulang tahun bersama teman-teman kuliah dan SMA nya di Burgundy Resto. Untuk surprise kali ini, aku meminta bantuan sahabatnya Lala yaitu Mbak Shendy yang hits abis. Dia sendiri yang mempersiapkan surprise ini termasuk mengundang semua orang. Jadi rencananya setelah kami berdua mengikuti Misa Kudus, kami langsung menuju Burgundy dan baegitu di sana semua akan diatur oleh Mbak Shendy.
Ketika kami baru selesai Misa Kudus, kami bertemu dengan temannya Lala yaitu Nessa dan Buha. Mereka berdua pun termasuk ke dalam list undangan surprise. Ketika Lala menawari mereka untuk ikut makan bersama kami, mereka pura-pura menolak karena sudah ada janji acara lain (padahal janjinya ya dateng ke ulang tahun lo, La).
Kami berdua pun berangkat menuju Burgundy. Ketika hampir sampai Burgundy, aku bertanya kepada Lala

“La, do you trust me?”
“Iya, aku percaya kamu kok. Kenapa emangnya?”

Lalu aku menutup matanya menggunakan kain (baca: kaos) yang ada di mobil. “I have another surprise for you”. Aku pun langsung tancap gas menuju Burgundy. Sesampainya di sang, aku memnuntunnya turun dan menaiki anak tangga menuju ke dalam restoran. Di atas sudah menunggu teman-teman lala, membentuk barisan manusia yang membawa lilin berjumlah 21. Ketika Lala sudah sampai atas, Mbak Shendy langsung menyanyikan lagu Happy Birthday diiringi band. Aku membuka penutup matanya. Dia pun super surprised banyak teman-teman kuliahnya dan teman SMA yang ada di Bandung berada di hadapannya. Mbak Shendy menyuruh Lala untuk berjalan di antara barisan teman-temannya dan meniup lilin itu satu persatu.
Setelah semua lilin ditiup oleh Lala, teman-temannya memberikan kesan dan pesan. Dari situ pun sangat terlihat bahwa semua teman-temannya sangat menyayangi Lala. Mereka semua menyebut Lala adalah sosok yang sangat hangat, friendly, baik, mandiri dan lain-lain. Aku pun menjadi yang terakhir untuk memberikan short speech. Aku lupa detil hal yang aku ucapkan, kurang lebih isinya:

“Halo semuanya. Perkenalkan, gue Andhika. Pacar barunya Lala (cieee…). Makasih banget ya udah menyempatkan diri buat dateng ke sini untuk merayakan ulang tahun Lala. Buat Lala, selamat ulang tahun ya. I know that you are the one for me.”

Lala pun juga mengucapkan rasa terima kasihnya kepada teman-temannya dan kepadaku. Dia tidak menyangka bahwa akan ada surprise seperti ini. Acara dilanjutkan dengan makan malam. Yang cukup berbeda dari pesta itu adalah makanannya bukan hanya prasmanan biasa tetapi ada BBQ juga. Hal itu menjadi salah satu alasanku memilih tempat ini meskipun jaraknya cukup jauh dari Kota Bandung. Kami semua sangat bahagia malam itu. Aku dan Lala jalan-jalan berkeliling dari meja satu ke meja satunya. Lala memperkenalkanku secara pribadi ke semua teman-temannya. Lala juga menelepon Mamanya. Dia bercerita bahwa dikasih surprise party sama Aku. Aku pun berbicara sebentar dengan Mamanya. What a wonderful night! We’re getting closer and closer each other. Even though we’re separated by distance in daily love, we were sure that we were gonna be a great couple.

Senin, 13 Oktober 2014
Hari ini sepatutnya Lala kuliah. Tetapi karena mumpung aku sedang di sini, dia pun bolos kelas hari itu (Fufufufu…). Hari itu kami berencana pergi ke KAWAH PUTIH! Tempatnya bagus banget! Ini foto-fotonya. Jangan pada iri ya…

Jpeg

Love is the air…and crater

Jpeg

Foto Hits

Jpeg

(another) Foto hits

Sabtu, 18 Oktober 2014
Hari ini bisa dikatakan salah satu hari paling menegangkan di dalam hidupku hingga hari ini. Bagaimana tidak, sejak subuh aku melakukan perjalanan: Malang-Surabaya-Bandung-Jakarta-Kota Kinabalu-Sipitang.

Aku berangkat subuh dari Malang ke Bandara Juanda Surabaya menggunakan travel. Sesampainya di sana, ternyata pesawatku menuju Bandung di delay. Aaku baru sampai Bandung lagi sekitar pukul 12.30 siang. Aku dijemput oleh Lala menggunakan taxi. Padahal rencananya aku mau ke Wisuda ITB dulu karena banyak sekali teman-temanku yang diwisuda. Taxi kami langsung tancap gas meuju Sabuga. Sesampai di sekitar Sabuga, keadaan sudah macet parah (as always Wisuda…). Kami berdua pun turun dari taxi dengan membawa suvenir-suvenir yang renacananya akan aku berikan langsung ke beberapa wisudawan/wati. Jam sudah menunjukkan pukul 13.10 padahal aku telah memesan travel ke Bandara Soekarno-Hatta pukul 13.45. Lautan manusia di Sabuga seakan mustahil untuk ditembus dan menemukan teman-temanku. Akhirnya aku dan Lala memutuskan untuk mengarah kembali ke taxi. Ketika kami jalan kembali ke taxi, kami bertemu dengan salah satu temanku yaitu Mas Sandy. Aku pun menitipkan semua suvenir-suvenir itu ke Sandy karena waktu yang sudah tidak memungkinkan aku masuk ke dalam. Kami pun kembali menelepon taxi yang tadi untuk dijemput.

Begitu kami masuk ke dalam taxi, CitiTrans meneleponku untuk konfirmasi keberangkatan. Akupun mengiyakan meskipun jam sudah menunjukkan pukul 13.30 dan kami masih di Sabuga. Kata Mbak, kami disuruh langsung ke Pool Pasteur saja. Taxi pun langsung tancap gas menuju Pool Pasteur. Sesampainya di depan pool, travel yang seharusnya kami naiki juga baru saja berangkat. Aku langsung loncat keluar taxi dan berusaha berlari mengejar tetapi tidak bisa. Kami pun akhirnya naik travel pukul 14.45 padahal pesawatku berangkat pukul 19.20. We have no other choice. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 tetapi kami masih di sekitar Tol Dalam Kota. Aku cukup pasrah dan mulai browsing rute pesawat Jakarta-KL-KK untuk keesokan hari. Tapi ternyata Tuhan masih berbaik hati. Kami sampai di T3 pukul 18.40 dan aku langsung memasukkan bagasi dan masih sempat dan ternyata DELAY. Syukur Puji Tuhan. Kami berdua masih sempat makan dengan Mamanya Lala. Oiya, Mamanya Lala sudah menunggu Lala dan aku di T3. Itu pertama kali aku ketemu Mamanya Lala setelah sekian tahun.
Setelah makan aku mau masuk ke dalam Ruang Tunggu.

“Sudah ya, aku masuk dulu ya. Kamu baik-baik ya. Semangat latian MCC ALSA nya!”
“Iya, kamu juga baik-baik ya di sana. Semangat kerjanya. Inget, jangan genit-genit!”
“Siapa yang genit ih :p “

Kami pun berpelukan terakhir dan aku masuk ke dalam ruang tunggu dan akhirnya kembali ke Malaysia. Cuti kali itu merupakan cuti paling penting sampai sekarang. Selama satu minggu itu akhirnya aku kembali lagi merasakan bagaimana indahnya saling menyayangi. Aku merasakan rasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dan aku sangat bersyukur bisa melihat salah satu hal paling indah di dunia, senyum bahagia dari Lala.

1442574476367

1442574495506

1442574535240

 

And that was the beginning of our story…

One thought on “#Szczęście – The Story of Us (Part I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s